Saturday, February 25, 2012

Hei, kau yang di seberang


Kututup dulu buku hati lalu kukunci dengan asa
Semoga suatu hari nanti boleh kau toreh lagi lembarannya dengan rayuan

Ayunkan lagi lengkung kurva yang seperti senyummu
dan garis yang tajamnya seperti binarmu
Lahirkan kata-kata nan manis seperti ciummu
dan cerita yang hangatnya seperti pelukmu

Sebab telah kau buat aku lunglai pada sapamu yang pertama

Thursday, October 6, 2011

Tuesday, September 13, 2011

Kuya,

Kuharap...
Kau lebih bahagia dariku
Tawamu lebih keras dariku
Mimpimu lebih manis dariku
Langkahmu lebih jauh dariku
Kekasihmu lebih baik dari kekasihku

Kuingin hidupmu lebih bermakna dariku
Sebab kau lebih pantas dariku
Jadi boleh kudapat setitik maaf darimu

Friday, September 17, 2010

Sebab dia adalah aku


Darahnya darahku
Nafasku nafasnya

Kami berbagi jiwa
Kami serupa paras

Pahamku darinya
Hidupku olehnya

Maka bila dia diambil
Apalah aku...

(13 September 2010)

Tuesday, March 2, 2010

Lalu datanglah Cinta mencobai ...

... Masuk ke dalam jiwanya perlahan-lahan lalu mematikan lilin hidupnya. Membutakan matanya dan membuatnya tersesat. Anak ini terseret ombak air mata. Tenggelam dalam sesaknya ketidakpastian hidup. Karang-karang menggores tubuhnya. Dia terombang-ambing dalam badai ketakutan.

Anak ini merinding kini. Sebab dunia telah berbalik menindihnya. Terseok-seok dia meniti nasib. Dengan bertopengkan aku sebagai perisainya. Dunia tidak lagi seindah dahulu. Dan hadirlah aku sebagai dia yang bersembunyi.

Sunday, February 28, 2010

I believe in kindness...







I believe in sincerity that warms the world
smiles that rise the sun
and kisses that light the moon

I believe in holding hands and peace
laughter and mothers' love
humanity and mother nature

I know
it's just a flick away inside all of us

Wednesday, February 24, 2010

Sebab dialah Cinta...

... Yang sudah menghujamku dengan asa dan merayuku dengan duri. Membelaiku dengan badai dan mencuri berlian penglihatanku. Dia menyepak kepastian jiwaku dan memasung kepala serta kakiku. Menindih rusukku. Menekan nafasku. Kata-kataku terampas. Tawaku tertampar.

Disini aku bersimbah darah berlinang air mata. Seperti mati yang hidup. Dan disana Cinta menari berselendangkan chandra. Di bawah pelita kehampaanku yang redup.